Maaf Atas Lisan
ku
Tujuh tahun
lalu, ya, seharusnya aku dan kamu bisa saling berbincang dan memeluk erat
Hanya karena
keegoisan, semua sirna
Maaf, jika kata
kata itu menyakiti kamu
Seharusnya aku
bisa melindungi kamu, wahai jiwa yang masih lemah
Seandainya saja
waktu dapat kembali saat tujuh tahun silam, aku pasti akan menanti hadirmu
Menanti dengan
penuh cinta, dan berjanji akan menjaga kamu
Kamu pergi?
Karena mendengar ucapan ku yang tak menginginkan hadirmu?
Maaf atas lisan
ku, maaf atas kelakuan bodoh itu
Mungkin, tapi
menurutku itu bukan tak mungkin
Orang di
sekitarku semua menyalahkan ku, terlihat dari sikap dan ucapan yang mereka
loncarkan di depan diri ini
Tuhan mendengar
semua ucapanku, tahu bahwa aku tak menginginkan kamu hadir di sampingku
Dan Tuhan
memutuskan untuk kau tetap tinggal di tempat yang sangat indah itu
Aku tak dapat
melihat wajahmu
Tapi aku bisa
merasakan hadirmu
Kadang, kamu
masuk di dalam mimpi ku. Apa tujuanmu?
Kamu hanya
mengingatkanku, “Jangan lupakan aku”
Jujur, aku sangat
menyesal dan merasa bersalah
Kamu tak salah,
kamu tak akan pernah salah!
Aku hanya bisa
berdoa di ruang sempit ini, meneteskan air mata yang sebenarnya tak ingin kau
lihat dari ku
Badan mungil,
pakaian serba putih, wajah yang kabur, tapi bagaimana bisa aku bisa
mengangkapmu anak yang cantik
Meraba hanya
dalam mimpi saat tidurku
Maafkan aku,
Suci...
0 komentar:
Posting Komentar